Jumat, 09 Desember 2011

Bukti TUHAN itu ADA

Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.


Benarkah Tuhan itu ada???  Kita tidak pernah melihat Tuhan. 


Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. 
Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. 
Cuma khayalan orang belaka.

Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. 
Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. 

Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”

Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. 

Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.

“Maaf jika kalian menunggu lama. 
Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. 

Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. 

Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.

Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. 
Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. 
Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. 
Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” 
Orang banyak pun tertawa riuh.

Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, 
“Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? 
Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”

Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.

“Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Atheist. 
“Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. 

Di mana Tuhan itu berada?” Orang atheist itu berpendapat, 
karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.

Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan.

“Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” 
Begitu si Atheist mengaduh.

Si Alim bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. 
Di mana sakitnya?”

“Ini sakitnya di sini,” si Atheist menunjuk-nunjuk pipinya.
“Tidak, saya tidak melihat sakit. 

Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si Alim bertanya ke orang banyak.
Orang banyak berkata, “Tidak!”

“Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. 
Begitu juga Tuhan. 

Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. 
Tuhan ada. 

Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Alim berkata.

Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. 
Tapi pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.

Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada?

Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?

Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa melihatnya jika meletakan benda tersebut ke bawah mikroskop yang amat kuat).

Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa dilihat, tapi ternyata hal itu ada.

Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.

Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi tertentu, demikian pula suara. 

Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. 

Demikian pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu menghancurkan pendengaran manusia.

Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Sang Maha Pencipta !!!

Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. 
Tapi jika kita melihat pesawat terbang, mobil, TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.

Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih kompleks.

Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. 

Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. 
Matahari, dan 8 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. 

Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. 

Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. 
Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya! Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.

Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. 

Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.

Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain:


“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]

Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. 
Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. 

Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. 

Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.

Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. 

Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. 

Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. 
Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. 
Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. 
Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada.

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). 

Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]

Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. 
Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. 
Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali Imron:191]

Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan, Allah menanyakan kepada mereka tentang makhluk ciptaannya. 

Manusiakah yang menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta:
“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah:58-59]

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” [Al Waaqi’ah:63-64]

“Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” [Al Waaqi’ah:72]

Di ayat lain, bahkan Allah menantang pihak lain untuk menciptakan lalat jika mereka mampu. 

Manusia mungkin bisa membuat robot dari bahan-bahan yang sudah diciptakan oleh Allah. Tapi untuk menciptakan seekor lalat dari tiada menjadi ada serta makhluk yang bisa bereproduksi (beranak-pinak), tak ada satu pun yang bisa menciptakannya kecuali Allah:

“…Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. 

Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” [Al Hajj:73]

Sesungguhnya, masih banyak ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang menjelaskan bahwa sesungguhnya, Tuhan itu ada, dan Dia lah yang Maha Pencipta
Read more..

Kamis, 08 Desember 2011

Ciri - Ciri Ulama Akhirat

Dan orang-orang yang beruntung dan didekatkan (kepada Allah) adalah ulama akhirat. Ikutilah para ulama akhirat ini, dan jangan terjebak dengan ulama-ulama dunia (ulama yang buruk). Ulama akhirat benar-benar mengajak kepada kebahagiaan akhirat.



Artikel ini ringkasan dari sebagian kecil isi kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al Ghazali. Dalam kitab ini, ulama akhirat mempunyai tanda-tanda, sebagian dari padanya adalah :
.
a. Ia tidak mencari dunia dengan ilmunya.


Hasan rahimahullah berkata: ”Tersiksanya para ulama adalah kematian hati. Sedangkan kematian hati adalah mencari dunia dengan amal akhirat”.
Sahl rahimahullah berkata: “Ilmu seluruhnya adalah dunia kecuali pengamalannya. Sedangkan amal itu seluruhnya beterbangan (lenyap) kecuali amal yang ikhlas.
Firman Allah swt tentang ulama dunia,
Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): 
“Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.”
Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS. Ali Imran:187)



Firman Allah swt tentang ulama akhirat,

Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. 
 Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali Imran:199)
“Barangsiapa yang menuntut ilmu dari apa yang untuk mencari keridlaan Allah Ta’ala itu untuk mencari harta benda dunia maka ia tidak mendapatkan bau syurga pada hari Kiyamat”. [HR. Abu Dawud, Ibn Majah]
“Ulama umat ini ada dua orang yaitu seseorang yang dikarunia ilmu oleh Allah lalu ia memberikannya kepada manusia dan ia tidak mengambil ketamakan (kelobaan) atasnya, dan ia tidak membeli (menukar) harga dengannya. 

Itulah orang yang dimohonkan rahmat oleh burung di udara, ikan di air, binatang bumi dan para malaikat yang mulia yang mencatat. 


Pada hari Kiamat ia diajukan kepada Allah sebagai orang yang mulia sehingga ia menemani para rasul. Dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah di dunia lalu ia kikir terhadap hamba Allah, dan ia mengambil atasnya dengan kelobaan dan ia membeli (menukar) harga dengannya. 


Orang itu pada hari Kiamat akan dikenakan kendali dengan kendali dari api. 
Seorang penyeru menyeru di atas makhluk, ”Ini Fulan bin Fulan di dunia diberi ilmu oleh Allah lalu ia kikir atas para hamba-Nya, ia mengambilnya dengan kelobaan dan ia membeli (menukar) harga dengannya, maka ia disiksa sehingga selesai perhitungan (amal) manusia”. [at Tabhrani]
Janganlah kamu duduk di sisi orang ‘alim kecuali orang ‘alim yang mengajakmu dari lima macam kepada lima macam, yaitu dari keraguan kepada keyakinan, dari riya’ kepada ikhlas, dari gemar (kepada dunia) kepada zuhud, dari kesombongan kepada merendahkan diri, dan dari permusuhan kepada nasihat.
[HR. Abu Nuaim dan Ibnul Jauzi]
.
Sebagian ulama ada yang menyimpan ilmunya maka ia tidak senang ilmu itu didapat pada orang lain, itulah orang yang di tingkatan pertama dari neraka.
Sebagian ulama ada orang yang di dalam ilmunya seperti kedudukan raja (penguasa).
Jika sedikit dari ilmunya ditolak atau diremehkan sedikit saja dari haknya maka ia marah. 
Itulah orang di dalam tingkat kedua dari neraka
Sebagian dari ulama ada orang yang memberikan ilmunya dan haditsnya yang asing-asing untuk orang-orang mulia dan kaya dan ia tidak melihat kepada orang yang menghajatkannya itu pantas untuk menjadi ahlinya, maka itulah (ia) di dalam tingkatan yang ketiga dari neraka.
Sebagian dari ulama ada orang yang menegakkan dirinya untuk berfatwa lalu ia memberi fatwa dengan kesalahan padahal Allah Ta’ala membenci orang-orang yang membebankan dirinya. Itulah orang yang berada di tingkat ke empat dari neraka.
Sebagian dari ulama ada orang yang berbicara dengan perkataan Yahudi dan Nasrani agar ilmunya dipandang banyak dan mengalir terus (seperti hujan deras: pent), dan itulah orang yang berada di tingkat ke lima dari neraka
Sebagian ulama ada orang yang menjadikan ilmunya sebagai keperwiraan, keutamaan dan disebut-sebut di kalangan manusia. Itulah orang yang di tingkat enam dari neraka.
Sebagian ulama ada orang yang menarik kecemerlangan dan kekaguman. Jika ia memberi nasihat maka ia kasar dan jika diberi nasihat maka ia enggan. Itulah orang yang di neraka tingkat tujuh.
.
Perbandingan antara orang yang mencari harta benda dunia dengan ahli ilmu yang mencari keridlaan Allah di dalam al Qur’an,
Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. 
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. (Al Qashash:79-80)
Maka ahli ilmu mengetahui untuk mengutamakan akhirat atas dunia.
.
b. Perbuatannya selaras dengan perkataannya

Ia tidak memerintahkan sesuatu amal perbuatan yang ia sendiri tidak mengamalkannya.

Allah Ta’ala berfirman,
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. Al Baqarah: 44)
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. As Shaaf: 3)
Sabda baginda Nabi saw: “Pada malam saya diperjalankan di malam hari, saya melewati suatu kaum yang bibirnya digunting dengan gunting dari api. Lalu saya bertanya: “Siapakah kamu sekalian ?”.
Mereka menjawab: “Kami adalah dahulu memerintahkan kebaikan namun kami tidak melaksanakannya, dan kami melarang kemungkaran namun kami melakukannya”. [HR. Ibnu Hibban]
Asy Sya’bi berkata: “Pada hari Kiyamat suatu kaum dari penghuni syurga menampakkan kepada suatu kaum dari penghuni neraka.Mereka bertanya kepada suatu kaum dari neraka itu: “Apakah yang menjadikan kamu masuk neraka? 
Kami dimasukkan oleh Allah ke syurga hanya karena keutamaan pendidikan dan ajaranmu?”. Suatu kaum dari neraka itu menjawab: “sesungguhnya dahulu kami memerintahkan kebaikan namun kami tidak melaksanakannya, dan kami mencegah dari keburukan namun kami menjalankannya”.
Hatim al Asham rahimahullah berkata: “Pada hari Kiamat tidak ada orang yang paling menyesal dari pada seseorang yang mengajarkan ilmu kepada manusia lalu mereka mengamalkannya sedangkan ia tidak mengamalkannya. Mereka beruntung dengan sebab pengamalan itu, sedang ia binasa”.
Ibnu Mas’ud berkata: “Akan datang suatu masa pada manusia di mana kemanisan hati dirasakan asin. Maka pada hari itu orang ‘alim dan orang yang belajar tidak mengamalkan ilmunya. 
Hati Ulama mereka seperti tanah kosong yang bergaram yang turun tetesan hujan, maka tidak didapatkan air tawar dari padanya. Demikian itu apabila hati ulama cinta kepada dunia dan mengutamakannya atas akhirat. 
Ketika itu Allah Ta’ala mencabut sumber-sumber hikmah dan memadamkan pelita-pelita petunjuk dari hati mereka. Orang ‘alim mereka memberitahukan ketika kamu bertemu dengannya bahwasanya ia takut kepada Allah dengan lidahnya sedangkan perbuatan dosa amalnya. 

Maka alangkah suburnya lidah dan gersangnya hati dewasa itu. 
Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, hal itu tidak lain karena orang-orang yang mengajar itu mengajar karena selain Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang yang belajar itu belajar bukan karena Allah Ta’ala”.

Ka’ab rahimahullah berkata: “Di akhir zaman akan ada ulama yang menyuruh manusia untuk zuhud terhadap dunia, namun mereka tidak zuhud, mereka menyuruh manusia takut (kepada Allah) namun mereka tidak takut, mereka melarang dari mendatangi para penguasa namun mereka mendatangi para penguasa, mereka mengutamakan dunia atas akhirat, mereka makan dengan lidah mereka, mereka mendekati orang-orang kaya, tidak kepada orang-orang miskin.

Mereka cemburu kepada ilmu sebagaimana orang-orang wanita cemburu kepada orang-orang laki-laki.
Salah Seorang di antara mereka marah kepada teman duduknya apabila teman duduknya itu duduk-duduk dengan orang lain. Mereka itulah orang-orang yang tukang paksa, musuh-musuh Tuhan Yang Maha Pengasih”.
Sabda baginda Nabi saw: “Sesungguhnya syaithan barangkali menunda-nundamu dengan ilmu”.

Lalu ditanyakan: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah itu ?”. 
Beliau SAW bersabda: “Syaithan berkata: “Tuntutlah ilmu dan jangan kamu amalkan sehingga kamu mengetahui. 

Senantiasa Syaithan itu berkata kepada ilmu demikian itu dan menunda-nunda terhadap amal sehingga ia mati dan tidak beramal”.[Diriwayatkan dari Anas dengan sanad yang lemah]

Ibnu Mas’ud ra. berkata : “Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, namun ilmu itu adalah takut (kepada Allah)”.
Ibnu Mas’ud ra. berkata : “Al Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan. 

Maka mempelajarinya ambil pengamalannya. 

Akan datang suatu kaum yang terdidik itu seperti saluran. 
Mereka bukan orang-orang pilihanmu. 

Orang ‘alim yang tidak mengamalkan adalah seperti orang sakit yang menyifati obat, dan seperti orang lapar yang menyifati makanan-makanan yang lezat-lezat namun ia tidak mendapatkannya”.


.

c. Ia menjauhi ilmu-ilmu yang sedikit kemanfaatannya, yang banyak perdebatan dan omong kosong.

Perhatiannya adalah untuk memperoleh ilmu yang bermanfa’at di akhirat, yang menggemarkan untuk taat.

Baginda Nabi saw bersabda: “Sebagian dari yang saya takutkan atas ummatku adalah tergelincirnya orang ‘alim dan perdebatan orang munafik mengenai Al Qur’an”. [HR. Ath Thabrani dan ibn Hibban]


Perumpamaan orang yang berpaling dari ilmu amal dan sibuk dengan perdebatan adalah seperti seseorang yang sakit dengan banyak penyakit padanya. 

Ia bertemu dengan seorang dokter yang pandai untuk waktu yang singkat yang dikhawatirkan kehabisan waktu. Orang yang sakit itu justru sibuk dengan menanyakan khasiat obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan, obat-obat lain dan hal-hal yang ganjil-ganjil dari dunia kedokteran; ia tinggalkan kepentingannya untuk mengobati penyakitnya. 

Ini adalah kebodohan.
Read more..